Sabtu, 02 April 2016

Novel : Bintang Anak Tuhan

KONFLIK BATIN TOKOH NOVEL BINTANG ANAK TUHAN KARYA KIRANA KEJORA : KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA

BAB I
Pendahuluan


1.1              Latar Belakang
Dewasa ini pengkajian sastra mendapat perhatian tidak hanya dari para ahli atau kritikus sastra, tetapi juga para peminat sastra dan penggemar sastra. Sastra dianggap semakin penting di zaman modern ini, bukan saja sastra diciptakan namun terus diapresiasikan masyarakat untuk memperhalus budi dan memperkaya pengetahuan, pengalaman, serta hiburan. Penguasaan teori merupakan salah satu cara dalam memahami karya sastra, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, meskipun sastra itu sendiri bersifat multi interpretable. Untuk itu mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra yang bergelut di dunia sastra perlu memahami dan menguasai ilmu sastra, dan melalui kegiatan-kegiatan yang lainnya yang menyangkut tentang sastra.

Karya sastra yang tersusun secara bersistem,  bersifat imajinatif dan terdiri dari prosa, puisi, dan drama. Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi atau cerita rekaan atau cerita khayalan. Sebagai sebuah karya imajinatif, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Salah satu jenis prosa adalah novel. Novel merupakan bagian dari karya fiksi yang memuat pengalaman manusia secara menyeluruh atau merupakan suatu terjemahan tentang perjalanan hidup yang bersentuhan dengan kehidupan manusia, sehingga dapat dikatakan bahwa karya fiksi berupa novel adalah suatu potret realitas yang terwujud melalui bahasa yang estetis. Novel sebagai sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain – lain.

Dalam sebuah novel penulis juga mengajak pembaca kedalam situasi yang ada, termasuk memahami konflik batin tokoh-tokoh di dalam novel, penulis terkadang menulis novel itu sengaja dan untuk memainkan irama emosi pembacanya. Konflik-konflik batin itu muncul untuk menggali dan menebarkan makna kehidupan, pembaca dapat menemukan manfaat dari membaca sebuah novel yang dibacanya. Oleh karena itu, karya sastra melalui pendekatan psikologi mencerminkan perwatakan tokoh yang mengalami masalah psikologi, bagaimana cara penulis sastra menampilkan cerminan psikologis tersebut.

            1.2              Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalahnya adalah sebagai berikut

1.   Bagaimana kepribadian tokoh dalam novel Bintang Anak Tuhan karya Kirana Kejora?
2.   Bagaimana konflik batin yang dialami tokoh dalam novel Bintang Anak Tuhan karya Kirana Kejora menggunakan pendekatan psikologi sastra?

1.3               Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuannya adalah sebagai berikut:

1.   Untuk mengetahui kepribadian tokoh dalam novel Bintang Anak Tuhan karya Kirana Kejora.
2.   Untuk mengetahui konflik batin yang dialami tokoh utama dalam novel Bintang Anak Tuhan karya Kirana Kejora menggunakan pendekatan psikologi sastra.

1.4               Manfaat
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk mengembangkan teori pembelajaran dalam karya sastra sehingga dapat  memahami karya sastra serta dapat menggali makna kehidupan melalui pendekatan-pendekatan.



BAB II
Studi Kepustakaan


a.         Penelitian Terdahulu

Dede Pratiwi (2012) dalam penelitiannya yang berjudul Kajian Novel melalui Pendekatan Psikologi Sastra Novel Di Bawah Lindungan Ka’Bah-Buya Hamka mendeskripsikan konflik-konflik yang muncul dalam novel berdasarkan a) konflik umum, 2) konflik pribadi tokoh, dan 3) pribadi jiwa tokoh. Dalam penelitiannya tentang novel tersebut yang masuk kedalam psikoanalasis menurut Sigmund Freud adalah di bagian pada saat Hamid depresi karena ibunya meninggal dunia, dan Zainab gadis yang disukainya itu tidak dapat dia dapatkan, maka Hamid merasa sangatlah depresi. Dia melakukan metode terapi untuk dirinya sendiri dengan cara malalui pengobatan spiritual, dengan cara mendekatkan dirinya kepada Tuhan YME.

Peneliti lain, Jatmiko Sumarwa (2012) dalam penelitiannya yang berjudul Konflik Batin Tokoh-tokoh Dalam Kumpulan Cerita Madre Karya Dewi Lestari (Pendekatan Psikologi Sastra), menyimpulkan beberapa hal yaitu 1) tokoh-tokoh di dalam kumpulan cerita Madre digambarkan oleh penulis dengan menggunakan tiga dimensi, yaitu dimensi fisiologis, sosiologis, dan psikologis. Namun, tidak semua tokoh yang ada di dalam cerita tersebut digambarkan dengan menggunakan keseluruhan dimensi, dan 2) konflik batin tokoh dikaji dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud yang digunakan untuk mengkaji karena teori tersebut mencakup kesadaran dan ketidaksadaran yang memengaruhi perilaku manusia yang mencakup tiga hal yaitu id, ego, dan superego.

Peneliti lain, Meinina Hasta Dwirini (2006) yang berjudul Kepribadian Tokoh Utama Supernova karya Dewi Lestari, mendeskripsikan kepribadian tokoh utama berdasarkan (1) id, ego, dan superego, (2) dinamika kepribadian tokoh utama meliputi naluri, distribusi penggunaan energi, dan kecemasan, (3) struktur kepribadian tokoh utama yang meliputi identifikasi, pemindahan objek, mekanisme pertahanan ego, dan fase perkembangan seksual. Penokohan yang dilakukan Dewi “Dee” Lestari pun kuat untuk sebuah novel fiksi. Sifat dari karakter-nya pun dapat terasa dengan jelas. Alur ceritanya pun tidak berbelit-belit dan tidak berbasa-basi sehingga pembaca pun disuguhi cerita yang jelas tujuan dan maksudnya.

Penelitian lain yang hampir serupa, oleh Ekarini Saraswati dalam naskah publikasi yang berjudul Pribadi dalam Novel Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi: Telaah Psikoananalis Sigmud Freud dari Struktur Kepribadian dan Mekanisme Pertahanan, menyimpulkan beberapa hal yaitu: (1) gambaran pribadi tokoh yang terdiri; a) struktur jiwa dan b) pertahanan jiwa, (2) gambaran pribadi islami yang diinterpretasikan oleh pengarang meliputi a) peristiwa dan b) latar sosial dan budaya. Penulis novel Ayat-ayat Cinta ini berhasil menggambarkan latar (setting) sosial-budaya Timur Tengah dengan sangat hidup tanpa harus memakai istilah-istilah Arab. Bahasanya yang mengalir, karakterisasi tokoh-tokohnya yang begitu kuat, dan gambaran latarnya yang begitu hidup, membuat kisah dalam novel ini terasa benar-benar terjadi, sedangkan dalam novel Laskar Pelangi oleh Andre Hirata menghadirkan corak nilai edukasi yang cukup tinggi, si penulis menggunakan unsur-unsur intrinsik seperti kekuatan tema, kekuatan plot, alur, dan karakter tokoh, serta ketajaman konflik.

Berdasarkan laporan penelitian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut bahwa konflik-konflik batin yang dialami tokoh-tokoh dalam cerita dapat diamati melalui psikologi sastra, serta konflik-konflik batin yang terjadi membuat pembaca ikut masuk ke dalam cerita dan masalah yang dialami tokoh-tokohnya, dan gejala-gejala psikologi tokohnya menggambarkan karakter tokoh-tokohnya.

b.        Telaah Teori
           Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yaitu Id, Ego dan Superego.

-       Konflik
Nurgiyantoro (1995) berpendapat bahwa konflik adalah kejadian yang tergolong penting dan cenderung bersifat tidak menyenangkan yang dialami oleh tokoh-tokoh. Mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dengan adanya aksi dan reaksi. Jadi, konflik adalah peristiwa penting yang dialami tokoh dalam suatu cerita. Pembagian konflik ada dua macam yaitu konflik eksternal dan konflik internal. Konflik eksternal disebut juga dengan konflik elemental yang meliputi konflik fisik (dengan dengan alam); konflik sosial (antarmanusia). Konflik eksternal perbedaannya adalah pendapat satu tokoh dengan pendapat tokoh lain, sedangkan konflik internal adalah adanya dua pendapat dalam jiwa satu tokoh tentang suatu hal.


-       Psikologi Sastra
Semi (1990) berpendapat bahwa pendekatan psikologi adalah pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu saja membahas peristiwa kehidupan manusia. Manusia senantiasa memperlihatkan perilaku yang beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh di perlukan psikologi. Dalam teorinya memfokuskan tentang aspek-apek kejiwaan manusia sehingga membantu pembaca lebih memahami dan mengungkapkan tentang perilaku tokoh-tokoh pada sebuah karya sastra serta gejala-gejala psikologis tokohnya.
Atkinson (1996) berpendapat psikologi berasal dari kata Yunani “psyche” yang berarti jiwa dan “logos” yang berari ilmu. Jadi psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang menyelidiki dan mempelajari tingkah laku manusia. Dalam teorinya sangat dapat dipahami dan bermanfaat karena  pemahaman tentang psikologi perlu ditanamkan kepada para pembaca karena banyak hal dapat dipelajari melalui pemahaman ini.
Endraswara (2008) berpendapat bahwa penelitian psikologi sastra memiliki peranan penting dalam pemahaman sastra karena adanya beberapa kelebihan seperti: 1) pentingnya psikologi sastra untuk mengkaji lebih mendalam aspek perwatakan, 2) dengan pendekatan ini dapat memberi umpan-balik kepada peneliti tentang masalah perwatakan yang dikembangkan, dan 3)  penelitian semacam ini sangat membantu untuk menganalisis karya sastra yang kental dengan masalah-masalah psikologi. Dalam teorinya menjelaskan tentang peranan penting serta kelebihan-kelebihan peneliti yang meneliti karya sastra menggunakan psikologi sastra.

-       Teori Psikoanalisis dari Sigmud Freud
Teori kepribadian psikoanalisis Sigmund Freud, struktur kepribadian terdiri dari tiga sistem yaitu id, (das es), ego (das ich), dan super ego (das ueber ich).
1) Id adalah aspek biologis yang merupakan sistem asli dalam kepribadian, satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir,
2) Ego adalah adalah aspek psikologis dari kepribadian yang timbul karena kebutuhan individu untuk berhubungan baik dengan dunia nyata, dan
3) Super ego adalah aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana yang ditafsirkan orang tua kepada anaknya lewat perintah-perintah atau larangan-larangan.


BAB III
Pembahasan

SINOPSIS
Penyajian data, adapun identitas novel sebagai berikut :
1.    Judul Buku       : Bintang Anak Tuhan
2.    Pengarang        : Kirana Kejora
3.    Tahun Terbit     : 2010
4.    Kota Terbit      : Jakarta
5.    Ketebalan        : 275 halaman
6.    Sinopsis            :
Bintang Anak Tuhan, menceritakan sebuah penderitaan seorang ibu muda dan anak perempuannya yang terjangkit HIV AIDS. Sang ibu ini tertular dari suaminya yang kerap memakai obat-obatan terlarang. Akhirnya virus ini pun menjangkit anak mereka. Sang suami telah pergi. Kini hanya ada mereka berdua. Mereka berjuang melawan badai hidup dan terus optimis terhadap masa depan.
                        Kelebihan novel adalah si penulis mampu mengajak pembaca kedalam situasi yang ada termasuk memahami konflik-konflik batin yang mereka geluti. Bahasa yang digunakannya pun mudah dimengerti, tidak terlalu baku. Layak untuk dibaca para remaja apalagi para penderita HIV AIDS karena banyak motivasi yang akan mereka dapat. Isi novelnya pun bagus karena di dalamnya mengandung perjuangan hidup seorang ibu dan anaknya yang menderita penyakit mematikan, di dalam buku ini pun terkandung banyak amanat yang bisa kita contoh. Novel tidak banyak kekurangannya, hanya saja mungkin covernya yang kurang menarik. Di akhir novel penulis menulis, antara lain: Mereka dilahirkan jelas tidak untuk sebuah lara berkepanjangan, tak mungkin Tuhan memberi hidup lalu mematikan begitu saja. Selalu banyak rahasiaNya, hikmahNya dari semua kesakitan yang kita alami. Novel yang layak untuk dibaca para remaja apalagi para penderita HIV AIDS karena banyak motivasi yang akan mereka dapat.



1.           Kepribadian tokoh dalam novel Bintang Anak Tuhan karya Kirana Kejora

Kepribadian tokoh dalam novel Bintang Anak Tuhan karya Kirana Kejora menggunakan teori kepribadian psikoanalisis Sigmund Freud, struktur kepribadian terdiri dari tiga sistem yaitu id, (das es), ego (das ich), dan super ego (das ueber ich).
Tokoh-tokoh di dalam novel Bintang Anak Tuhan digambarkan oleh penulis dengan menggunakan tiga dimensi, yaitu dimensi fisiologis, sosiologis, dan psikologis. Namun, tidak semua tokoh yang ada di dalam cerita tersebut digambarkan dengan menggunakan keseluruhan dimensi. Tokoh-tokoh yang terdapat di dalam novel, yaitu Agung, Hanum, Bintang.
a)      Tokoh Agung
Agung sebagai ayah dari Bintang,
·        Secara fisiologis, Agung digambarkan sebagai sosok pria yang berkulit sawo matang, rambut lurus, hidung panjang, dan seperti dalam kutipan, “aku bertemu dengan Agung sosok pria yang berkulit sawo matang, rambut lurus, hidung panjang yang menikahiku beberapat tahun yang lalu.”
·        Secara sosiologis Agung digambarkan sebagai orang yang hidup bebas dan tidak terikat pada siapapun, seperti dalam kutipan, “masa remaja hingga kini kuhabiskan di Bali. Sendirian. Aku mewarisi jiwa bebas ayahku, kata orang-orang.”
·        Secara psikologis, Agung memiliki jiwa pekerja keras namun bisnisnya bangkrut kemudian stress. Hal tersebut seperti dalam kutipan, “Hanum tak tahu latar kehidupan Agung ketika muda. Yang ia alami dan tahu bahwa suaminya bekerja keras, pada awalnya cukup berhasil namun kemudian bangkrut. Dan Agung stress, lebih dari itu melarikan diri dengan mengkonsumsi narkoba bersama teman-temannya : melalui jarum suntik yang digunakan bergantian.

b)      Tokoh Hanum
Hanum sebagai ibunya Bintang yang tertular HIV/AIDS,
·       Secara fisiologis, tidak ada penggambaran secara jelas tentang tokoh Hanum. Yang pasti, Hanum adalah seorang perempuan.
·       Secara sosiologis, Hanum dijelaskan sebagai gadis pramusaji resto yang tumbuh dan dibesarkan di panti asuhan berkenalan dengan Agung, yang kemudian menikahinya dan setelah Agung meninggal dia menjadisingle parent”.
·       Secara psikologis, Hanum memiliki sifat tegar karena harus bekerja berangkat pagi pulang jelang malam untuk menghidupi dan membeli obat yang wajib untuk keduanya seperti dalam kutipan, “aku harus tegar demi Bintang, aku akan membesarkannya dengan bekerja keras.”

c)      Tokoh Bintang
Bintang sebagai gadis kecil yang ODHA, anak dari Hanum dan Agung.
·      Secara fisiologis, Bintang digambarkan sebagai gadis kecil berambut panjang yang cantik namun terjangkit virus HIV/AIDS.
·      Secara sosiologis, lugu, polos, bersahaja tulisan-tulisan tangannya.
·      Secara psikologis, terjangkit virus HIV/AIDS.

2.         Setelah mengetahui kepribadian tokoh dari masing-masing tokoh dari data diatas selanjutnya dapat dianalisis konflik batin tokoh-tokoh menggunakan psikologi sastranya dalam novel Bintang Anak Tuhan karya Kirana Kejora yaitu

Teori psikoanalisis Sigmund Freud digunakan untuk mengkaji karena teori tersebut mencakup kesadaran dan ketidaksadaran yang mempengaruhi perilaku manusia. Hal tersebut didukung dengan keberadaan tokoh yang memiliki kesalahan di masa lalu. Teori ini mencakup id yang merupakan naluri dari pikiran yang dibawa sejak lahir dan berprinsip mengejar kenikmatan, ego sebagai bentuk realisasi dari id yang berprinsip pada realitas, dan superego sebagai bentuk penghalang/rintangan apakah realisasi ego sesuai dengan moral dan norma yang berlaku di masyarakat atau tidak.

a.       Analisis Konflik Batin
Tokoh Hanum:
Namun aku telah puas menangis kali ini. Tangisanku terakhir, airmata yang kujanjikan yang kujanjikan keluar hanya sekali ini lagi. Setelah itu harus kujadikan batu air mata berdarahku ini. Sungguhpun, aku tetap memohon pertolongan, perlindungan dan cintaMu untuk anak titipanmu."
Protes
dan doa batin Hanum terlepas bak anak panah yang melesat. Menancap pada sasarannya. Tuhan! Hanum Pratiwi dengan Bintang Maharani gadis kecilnya, harusnya menerima garis menjadi laskar pesakitan penyakit yang mematikan, warisan dari mendiang Agung Permana, suaminya kepedihan bayang-bayang kematian begitu lekat di pelupuk mata. Namun dia harus tegar hidup dalam keterbatasan materi, kucilan masyarakat dan keluarga. Ia yakin sakitnya bisa disembuhkankan! Ia dan Bintang siap memeluk kepasrahan yang kini tengah merayap menuju kesempurnaan. Dengan kekuatan doa dan cinta mereka menjalani hidup yang kini mulai membaik. Bintang adalah mataharinya yang harus selalu dia pijarkan hidupnya dengan cahayaNya.

Kutipan diatas merupakan pergulatan batin yang dialami oleh Hanum, seorang ibu yang harus merawat anaknya serta harus menjadi tulang punggung mencari rezeki untuk pengobatan dirinya dan Bintang. Pernah ada penyesalan dalam hidupnya karena bertemu dengan Agung, suaminya yang mengakibatkan dia dan Bintang terkena virus mematikan itu. Meskipun sering mendapat kucilan dari orang-orang disekitarnya dia tetap tegar, pasrah, dan berusaha dalam menjalani hidupnya sampai akhirnya dia dan anaknya pun sukses dengan usaha cateringnya.

Tokoh Bintang:
Konflik batin tokoh dalam novel Bintang Anak Tuhan karya Kirana Kejora mengandung konflik psikologis yaitu yang amat menyentuh nurani adalah pergulatan batin yang dialami Bintang, anak dari Hanum.
Buktinya kutipan tidak langsung: Bintang berusia sekitar 8 tahun, sempat duduk di SD kelas 2, namun ”dirumahkan” karena penyakit batuknya mengeluarkan darah. Setiap hari ia terkurung di rumahnya, karena Hanum harus bekerja berangkat pagi pulang jelang malam. Bintang bersahabat dengan buku-buku, ikan di akuarium, dan Ajeng, usia 10 tahun, anak perempuan penjual kue yang tinggal di balik tembok perumahan, dan Bintang sering mengungkapkan isi hatinya di catatan hariannya.

b.      Konflik batin yang terdapat di dalam novel tersebut berdasarkan hasil analisis adalah sebagai berikut.
a)         Pertama, ketidakjelasan latar belakang Agung dan menikahi Hanum, meski orangtua tak setuju bahkan menjadikan ayah Agung meninggal dunia, diikuti dengan merosotnya bisnis keluarga.
b)        Kedua, Agung stress, lebih dari itu melarikan diri dengan mengkonsumsi narkoba bersama teman-temannya melalui jarum suntik yang digunakan bergantian dan meninggal.
c)         Ketiga, konflik dengan Agung karena kesalahan masa lalunya mengakibatkan dia dan Bintang tertular virus tersebut menjadikan “single parent.
d)        Keempat, Hanum dan Bintang menjalani hidup dengan tertatih-tatih. Keahlian Hanum menjahit lumayan utnuk menunjang hidup, periksa ke dokter, laboratorium, dan membeli obat. Yang belakangan disebut : obat, wajib ada, wajib dikonsumsi setiap hari oleh ibu dan anak ini.  
e)         Kelima, mereka harus berjuang melawan badai hidup dan terus optimis terhadap masa depan.

         
          BAB IV
           Penutup

Berdasarkan pembahasan diatas, dapat di simpulkan bahwa novel Bintang Anak Tuhan karya Kirana Kejora dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Analisis dengan pendekatan psikologi sastra, aspek psikis dapat mencerminkan karakter atau perwatakan tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Karakter tokoh-tokohnya yang dapat dianalisis dengan id (aspek biologis), ego (aspek psikologis), dan super ego (aspek sosiologi kepribadian). Ketiga hal tersebut akan mendukung penulis untuk mengembangkan karakter tokoh dalam menulis sebuah karya sastra dan pembaca pun dapat ikut masuk ke dalam cerita dalam karya sastra, bahkan pembaca dapat menganalisis dengan ketiga hal tersebut untuk menmukan karakter tokoh yang ada. Oleh karena itu karakter tokoh yang dapat dianalisis dengan ketiga hal tersebut mencakup karakter-karakter yang ada di dalam tokoh-tokoh dalam cerita.




Daftar Pustaka

Kejora, Kirana. 2010. Bintang Anak Tuhan. Jakarta: Bentang Pustaka  
Minderopo, Albertine. 2010. Psikologi Sastra: Karya Sastra, Metode Teori, dan Contoh Kasus. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Moesono, Anggadewi. 2003. Psikoanalisis dan Sastra. Depok: Yayasan Adikarya Ikapi
Nurgiantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.


                        sumber foto: google
Terimakasih sudah membaca

Tidak ada komentar:

Posting Komentar